12.12
0

Baru-baru ini ramai tersiar kabar, di kalangan ABG/remaja ada kecenderungan untuk mengambil foto speedometer dalam kondisi full speed, atau menunjuk ke angka setinggi-tingginya yang dia mampu, lalu meng-upload-nya dan menyebarkannya ke berbagai social media yang ada.

Caranya, dia kemudikan mobil dengan kecepatan sangat tinggi, lalu ketika speedometer menunjuk ke angka 160 km/jam atau 180 km/jam, bahkan hingga 200 km/jam, difoto, dan fotonya di-upload ke berbagai social media. Tujuannya? Apalagi kalau bukan untuk narsis dan pamer ke teman-temannya. Ada semacam kebanggaan tersendiri bagi mereka, bila dapat memperlihatkan bukti bahwa telah melarikan mobilnya di kecepatan yang sangat tinggi. Wow! Fenomena apa lagi ini? Ada-ada saja. Itu sama sekali tidak keren.



Bahkan gencar di social media tentang hastag #Speedometer. Setiap mengunggah foto speedometer, diiringi dengan hastag #Speedometer. Foto speedometer yang menunjuk ke angka tertinggi yang kerap dijadikan bahan bernarsis ria, bisa saja menjadi pemicu terjadinya kecelakaan maut di jalan. Semua juga tahu, dan sangat menyadari bahwa mengambil foto speedometer dalam kondisi kecepatan sangat tinggi resikonya sangat tinggi. Maut taruhannya. Ngebut di jalan saja sudah beresiko, apalagi ngebut plus foto. Entah apa yang ada di benak para pelaku. Para remaja tersebut pun belum tentu memiliki SIM. Masih di bawah umur. Untuk bawa kendaraan dalam kondisi normal pun masih dilarang.
Kegundahan ini pula yang melatarbelakangi seorang Diva, Titi DJ, untuk mem-posting curahan hatinya, tentang kegundahan hatinya sebagai ibu dari anak-anak belasan tahun. Titi DJ mengatakan, “Baru denger cerita, sekarang lagi trend  di kalangan anak-anak belasan tahun (biasanya cowok) nyetir mobil dalam kecepatan sangat tinggi, lalu  bilamana jarum penunjuknya sudah di 140 km/hr – 160 km/hr -180 km/hr bahkan ada yang 200 km/hr, difoto lah speedometernya, lalu fotonya diposting di social media, biasanya instagram”.






Masih menurut Titi DJ, pastinya ada banyak kasus kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh hal tersebut.  Titi DJ mengkaitkannya dengan peristiwa kecelakaan yang menimpa Dul, anak Ahmad Dhani. Kecelakaan yang menyebabkan tewasnya 6 orang dan 11 orang luka-luka di Tol Jagorawi, penyebabnya disinyalir karena termotivasi dan tersulut oleh hal tersebut. Masih disinyalir, karena memang masih dalam penyelidikan pihak yang berwajib.

Sebagai orang tua dari anak umur belasan tahun juga, rasanya semakin berdebar jantung ini. Perasaan khawatir, was-was, deg-degan, dan takut kecolongan pasti mampir di hati. Namun, mungkin hal yang berbeda dirasakan oleh para ABG/remaja. Mungkin mereka justru merasa gelisah, takut orang tua mereka akan memperketat ijin membawa mobil ke luar, atau bahkan melarang sama sekali. Mungkin para ABG gelisah, takut orang tua mereka semakin membatasi pergaulannya.

Yang bisa dilakukan hanya mewanti-wanti anak, membiarkan mereka melihat contoh yang ada, mencernanya, merenungkannya, dan membimbing mereka untuk mengambil keputusannya sendiri. Hasilnya, cukup lega, “Tenang Ma, itu sama sekali gak keren! Ngapain kayak gitu?”. Fiuuuhhh!! Puji Tuhan.






Sumber :http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2013/09/10/kasus-dul-upload-foto-speedometer-ke-soc-med-590581.html

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.